Cerita Sex My Immortal – UNCUT VERSION – Part 7

Cerita Sex My Immortal – UNCUT VERSION – Part 7by adminon.Cerita Sex My Immortal – UNCUT VERSION – Part 7[go_to_hell] My Immortal – UNCUT VERSION – Part 7 Caroline Valentina Cowok itu mendengarku dan ia membalikkan tubuhnya, kini menghadap kearahku. Ia mengenakan kacamata hitam Oakley yang sporty. Di luar pagar, terparkir sebuah Honda All New Civic berwarna hitam mengkilap dan sangat jelas terlihat bahwa pemiliknya pasti merawatnya dengan sangat baik. Di belakang cowok itu […]

multixnxx-Black hair, Ponytail, Asian, Amateur, Home-3 multixnxx-Black hair, Ponytail, Asian, Amateur, Home-4 multixnxx-Black hair, Ponytail, Asian, Amateur, Home-5[go_to_hell] My Immortal – UNCUT VERSION – Part 7

Caroline Valentina
Cowok itu mendengarku dan ia membalikkan tubuhnya, kini menghadap kearahku. Ia mengenakan kacamata hitam Oakley yang sporty. Di luar pagar, terparkir sebuah Honda All New Civic berwarna hitam mengkilap dan sangat jelas terlihat bahwa pemiliknya pasti merawatnya dengan sangat baik. Di belakang cowok itu berdiri seorang cewek, sepertinya blasteran juga, sama seperti Valen. Cewek itu cantik. Ehm…sangat cantik.

Ia mengenakan kaos putih bertuliskan What are you looking at? sementara dibaliknya dua bongkah buah dada membusung dengan indah, wajahnya ramah didukung dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah, sama seperti cowok tadi, ia juga mengenakan jaket berwarna cokelat gading, jaket couple sepertinya.

HEI!! bentak cowok itu ketika menyadari aku tengah ‘menelanjangi’ cewek yang kutebak adalah pacarnya

Ah! Iya…iya mas! Kenapa? Gimana? Ada yang bisa saya bantu? aku tergagap, panik karena busted tengah mengamati si cewek

Benar ini rumah mas Evan? tanya si cowok dengan tegas tanpa senyum

I..iya…benar…ada apa yah? perasaanku was-was, namun melihat si cewek yang tengah tersenyum-senyum, aku menjadi agak rileks

Kamu tau siapa saya?! ucap si cowok dengan tegas dan agak membentak

Diajak bicara dengan nada begitu, emosiku naik
Siapa?! Ini rumahku! Sopan dikit napa?!

Ia melepas kacamata hitamnya. Aku tersentak kaget, tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

K-kamu…k-kamu kan… aku tergagap menatap wajahnya, kepalaku menggeleng keras

Van, siapa sih? Kok lama amat? Emang siapa yang- Valen ternyata menyusulku, seperti aku, ia pun terpana menatap cowok yang tersenyum ramah di hadapan kami

Cousin! seruku dengan suara dan logat menirukan Stitch

Aku menubruknya keras sekali. Kami berpelukan bak sahabat yang baru bertemu setelah beberapa tahun berpisah.

Woah…woah…sabar Van…ahahaha cowok itu tertawa sambil melepaskan pelukanku

Siapa si dia Van? tanya Valen tanpa mengalihkan tatapannya dari si cowok

Ini Arif, sepupuku! aku dengan bangga memperkenalkannya

Dia adalah Arif, sepupu dekatku. Kami memang jarang bertemu karena berbeda kota dan kami sibuk, okay, DIA yang sibuk dan aku tidak, aku nggak malu mengakui itu.
Tingginya hampir sama denganku, wajahnya mirip dengan Lee Min Ho, begitu juga dengan model rambut ketika si Lee Min Ho bermain di serial K-Drama City Hunter. Usia kami terpaut beberapa bulan, ia lahir di tahun yang sama denganku namun beberapa bulan lebih tua. Ia adalah anak dari kakak kedua ayahku.

Sepupu? tatapan Valen masih tertuju pada sepupuku itu, takjub

Si cewek yang datang bersama Arif melangkah maju, ia melambaikan tangannya di depan wajah Valen sambil tersenyum.

Udah…jangan diliatin terus, ntar naksir loh! Hehehe cewek itu terkekeh

Valen segera tersadar, pipinya merona merah karena malu.
Ma…maaf… ucap Valen lirih

Aku jadi merasa tidak enak kepada si cewek karena perbuatan Valen.
Untung Arif segera mencairkan suasana

Hahaha…jangan gitu… Arif melingkarkan tangannya di pinggang si cewek
Evan, ini pacarku…namanya Ira… ucapnya kepadaku

Hai…namaku Ira…Ira Selva Divina cewek itu menjulurkan tangannya kepadaku dan kepada Valen, sementara Valen menyambut tangannya dengan agak ragu-ragu

Kenapa? Ira bertanya dengan heran kepada Valen yang sedari tadi menunduk

Gue…gue udah lancang…maafin gue…. Valen berkata lirih

Arif menatapku dan mengangkat sebelah alis, seolah bertanya Kenapa sih cewek itu?
Aku menjawab dengan senyum yang bermakna Nggak apa…itulah Valen

Ira tertawa kecil lalu berkata
Aduuuh…cuma masalah kaya gitu juga…nggak apa kali…serius amat

Diliatin sepanjang hari juga nggak apa-apa…mau buat kamu, dibungkus, dibawa pulang juga nggak apa-apa. Hehehe Ira menambahkan sambil tersenyum menatap Arif dan menjulurkan lidahnya

Heeeii! Jangan gitu…kalo nggak ada aku ntar kamu kangen Arif memeluk pacarnya dari belakang, lalu mereka berdua tertawa. Mesra sekali.

Kami juga tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Nama kamu siapa? Ira bertanya kepada Valen

Caroline Valentina. Panggil aja Valen jawab Valen ceria

Kami berempat ngobrol-ngobrol agak lama di teras depan.
Ternyata Arif dan Ira akan tinggal di kota ini cukup lama, namun aku tidak bertanya lebih jauh kenapa. Awalnya mereka bingung akan menginap dimana, aku mengusulkan Arif menginap dirumahku dan Valen mengusulkan Ira menginap dirumahnya. Sesaat kemudian, sepasang kekasih itu mengangguk setuju.

Setelah beristirahat sejenak, kami berempat menuju kerumah Valen, tempat Ira akan menginap.
=============
Several days later….

Point of view : Ira

Mall Green Clover, sebuah mall bertingkat 7 yang selalu dipadati pengunjung setiap hari. Fashion level, lantai 4.

“PULANG SEKARANG!” Evan membentak

“IYA! TAPI NGGAK USAH TERIAK-TERIAK GITU BISA NGGAK SI LO?!” Valen menjerit, berusaha melepaskan cengkeraman Evan pada lengannya

“DIAM!!”

“LO YANG DIEM!! INI TEMPAT UMUM TAU NGGAK?!!”

“OH YA?! APA AKU PEDULI?!!”

“DASAR COWOK BEBAL!” Valen memaki Evan dengan marah

“APA?! BILANG SEKALI LAGI!”

“COWOK BEBAL! LO ITU COWOK BEBAL!!”

“CUKUP! PULANG SEKARANG!!” Evan menyeret Valen untuk pergi, namun Valen masih meronta-ronta

Kami melakukan suatu hal bodoh. Yup, ribut-ribut masalah pribadi ditempat umum seperti ini bukanlah ide yang bagus. Para pengunjung mall berhenti dan mengerumuni kami, menjadikan kami bahan tontonan.

“Arif! Lakuin sesuatu dong!” aku berbisik sambil menyikut lengan pacarku yang tampak tidak peduli

Ia malah sibuk melihat-lihat kaos yang terpampang rapi. Aku bingung kenapa ia bisa setenang ini.
Orang-orang semakin banyak mengerubungi kami.

“Udah tenang aja sayang…hehe…serahkan pada mereka” Arif melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, mau tidak mau membuatku merasa agak tenang

Bapak-bapak, ibu-ibu, anak kecil, cowok cewek semuanya menyaksikan kedua temanku itu berseteru. Anehnya tidak ada satpam yang melerai. Tiba-tiba seorang cowok maju dari kerumunan.

“Bro, lo jangan kasar-kasar sama cewek dong…” ucapnya sok cool

“Widih…pahlawan tuh sayang. Mau minta tanda tangan nggak?” kata Arif kepadaku, mengejek si cowok. Ia menyandarkan dagunya pada bahuku

“BUKAN URUSANMU!” bentak Evan menanggapi tantangan cowok tadi

“Oh ya? Kalo gitu, lepasin cewek itu” ia tersenyum sinis

“Fuck yourself!” Evan hendak beranjak pergi dengan menarik lengan Valen

“Hoi anjing. Gue ngomong sama lo!” bentak cowok itu

TEK!! Evan berhenti dan mematung.

Aku menatap Arif dengan tidak terima. Ia hanya menjawab dengan senyum lalu berkata,
“Uups…saklarnya putus nih…” ia kembali menatap Evan

“Apa kamu bilang?” Evan berbalik menatap si cowok dengan marah

“Anjing. Lo denger? A-N-J-I-N-G. Budeg apa lo?”

“…”

“Mending lo lepasin tuh cewek sebelum gue…” ia mengepalkan tangan di depan wajah Evan

“Sebelum apa?!” tantang Evan

JBUUUUGGG!!

Evan terjungkal kebelakang, mengantam beberapa trolley berisi pakaian. Cowok itu menarik lengan Valen kearahnya sementara sang cewek terkejut bukan main melihat pacarnya dipukul orang asing.

“Sebelum gue kepret lo bego…”
“Tenang, lo aman sekarang” ia melemparkan senyum pada Valen yang membuatku jijik

Evan bangkit dengan sempoyongan, menyeka sudut bibirnya yang mengucurkan darah. Ia menghela nafas dengan berat, siap bertempur. Aku benar-benar cemas kali ini, kutatap Arif dan aku begitu kaget melihat kini ada kekhawatiran dimatanya.

“Aduh…malah gini jadinya….Evan, sabar Van…jangan….aku mohon jangan ngamuk disini…” Arif bergumam gelisah

Valen kini meradang marah menatap Evan yang tampak sibuk mengusap-usap pipi kirinya yang membiru.

“Kenapa? Lo nggak terima hah?” tantang si cowok sok pahlawan itu lagi ketika melihat Evan bangkit

Dengan kecepatan yang mengagumkan, Evan menerjang balik cowok tadi dengan tangan mengepal.

“Wah…mati tuh cowok…” kudengar Arif bergumam pelan

Kini Evan sudah berada di hadapan cowok itu, gerakannya seolah tidak dapat dihentikan dan cowok itu pun tampak kaget melihat musuh barunya. Aku memejamkan mata, tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.
PLAAAAAKKK!!!

“Plaak? Suara apa tuh? Suara tamparan kan? Kok Evan nampar sih bukannya nonjok??”
Aku membuka mata pelan-pelan.

Valen berdiri diantara kedua cowok itu.
“Valen? Nampar Evan?????”

“LO PIKIR LO KEREN HAH?! LO PIKIR LO KELIATAN COOL GITU?!” jeritan Valen melengking tinggi

“LO PIKIR LO SIAPA?! BIKIN RIBUT-RIBUT DI TEMPAT KAYAK GINI!! LO SIAPA GUE SIH? DAN YANG TERPENTING, APA HAK LO BUAT MUKUL COWOK GUE?! GUE NGGAK INGET PERNAH MINTA BANTUAN LO ATAU SIAPAPUN!! LO DENGER? NGGAK PERNAH!!!”

Cowok tolol itu mundur, kembali ke kerumunan dengan perasaan yang pastinya sangat malu. Niatnya jadi pahlawan, eh malah dimaki-maki.

“Tuh kan, aku bilang apa? Serahkan saja pada mereka…hehehe” Arif terkekeh sambil menatap Valen yang tengah memeriksa memar di pipi Evan

“Woow…” aku hanya mampu berkata demikian

Melihat drama sudah selesai, kerumunan itu berangsur menipis. Sekelompok cewek yang berpakaian seksi diseberangku tampak berbisik-bisik sambil menatap Arif yang berdiri disisiku. Aku mengrenyitkan alis menatap mereka. Kualihkan tatapanku pada Arif, tampaknya ia menyadari sekelompok cewek itu tengah memperhatikannya dan ia tersenyum pada mereka.

“Apa? Arif senyum sama cewek-cewek ganjen yang sok seksi itu?” aku terbakar rasa cemburu

Sekelompok cewek itu terkikik ketika melihat Arif memberi respon. Bahkan beberapa mulai berani mendekati Arif. Aku menatap mereka dengan sebal. Tiba-tiba ada yang mencolek bahuku. Aku menoleh dan aku melihat Arif sedang tersenyum kepadaku. Tiba-tiba ia mencium bibirku dengan lembut, jelas saja aku kaget, apalagi di tempat umum seperti ini.

Setelah mencium bibirku, ia menatap sekelompok cewek tadi, mereka melongo. Arif melemparkan senyum sinis pada mereka dan menggandeng tanganku ketempat Valen dan Evan. Aku hanya bisa mengikutinya dengan syok.

(to be continued)

Author: 

Related Posts

Comments are closed.